08 November 2016

Pembuatan Kompos Semi Anaerobik

Laporan                                               Hari, Tanggal  : 
Pertanian Organik                               Dosen              : Dr. Ir. Muhadiono M.Sc
  Yoscarini, S.Hut
Asisten Dosen : Ricardo Ipui, A.Md
  Taufik, A.Md


Pembuatan Kompos Semi Anaerobik

 




TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
        Sampah merupakan sisa-sisa aktivitas makhluk hidup yang indentik dengan bahan buangan yang tidak memiliki nilai, kotor, kumuh, dan bau. Sampah dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu organik dan anorganik. Sampah organik adalah jenis sampah yang berasal dari makhluk hidup sehingga mudah busuk dan hancur secara alami.
        Sampah anorganik adalah sampah yang tersusun dari senyawa non-organik yang berasal dari mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Sampah organik seperti dedaunan yang berasal dari taman, jerami, rerumputan, dan sisa sayur, buah, yang berasal dari aktivitas rumah tangga dapat menimbulkan berbagai masalah. Baik masalah keindahan dan kenyamanan maupun masalah kesehatan manusia, baik dalam lingkup individu, keluarga, maupun masyarakat.
         
1.2  Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengetahui cara pembuatan pupuk kompos semi anaerobic dan melihat perkembangan pada proses pembuatannya.




BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan yaitu ember, gunting, kayu, penggaris, dan alat tulis. Bahan yang digunakan yaitu daun kering dan buah nanas.
2.2 Prosedur Kerja
            Alat-alat disiapkan. Daun-daun kering dicari dan dikumpulkan. Selanjutnya daun daun kering digunting kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam ember hingga ketinggian ¾ ember. Pada minggu kedua diberi nutrisi berupa buah nanas sebanyak ¼ bagian, nanas tersebut dihaluskan. Serasah dan nanas dicampur hingga merata. Ember ditutup dengan penutupnya agar menjaga kondisi anaerob. Setiap minggunya tinggi, warna, dan bau kompos diamati perubahannya. Setiap minggunya diberikan perlakuan pengadukan dan pengeringan agar kompos tidak basah.











BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Praktikum
Tabel 1. Hasil pengamatan kompos semi anaerobik
Minggu ke-
Warna
Bau
Tinggi (cm)
Gambar
0
Cokelat
Berbau daun kering
21
1
Cokelat tua
Berbau daun kering
20
2
Cokelat kehitaman
Tidak berbau
18,5
3
Cokelat
Tidak Berbau
15

 *Gambar Menggunakan Data sendiri

3.2 Pembahasan
Salah satu cara mengatasi sampah organik dalam hal ini serasah yaitu dengan cara mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih berguna seperti kompos. Serasah mengandung bahan organik dan jika dikembalikan ke dalam tanah akan dapat membantu memulihkan atau meningkatkan kesuburan tanah. Pengembalian limbah serasah yang merupakan limbah organik ke dalam tanah dapat  berupa  pupuk  organik (Hapsari, 2013). Serasah pada umumnya dapat terdekomposisi dengan baik di alam namun apabila diikuti dengan campur tangan manusia dalam pembuatannya akan menghasilkan kompos yang lebih bermutu, terbentuk lebih cepat, dan bernilai ekonomis tinggi
Pemotongan serasah dilakukan agar proses pendegradasian bahan lebih cepat oleh bantuan mikroorganisme (bakteri pengurai), apabila menggunakan bahan yang lebih besar ukurannya proses pengomposan akan berlangsung lebih lama. Proses memotongan serasah dibuat dengan ukuran yang seragam dan sekecil mungkin (1-2 cm) karena akan mempengaruhi proses aerasi.
Proses pengadukan dan pengecekan yang dilakukan setiap minggunya diharapkan bakteri yang ada di dasar kompos mendapatkan sedikit udara yang nantinya dimanfaatkan oleh bakteri sebelum ember ditutup kembali sehingga kondisi di dalamnya menjadi anaerob karena tidak ada asupan udara dari luar. Meningkatnya kadar oksigen di dalam kompos akan meningkatkan kinerja mikroba aerob sehingga pengomposan berlangsung lebih cepat.

Proses penggomposan ini melibatkan bakteri-bakteri tertentu yang hanya dapat hidup dalam kondisi kandungan O2 yang rendah sehingga ditambahkan buah nanas sebagai pasokan glukosa yang nantinya dimanfaatkan oleh mikroba sebagai sumber energi serta nutirisi yang dibutuhkan bakteri sehingga dapat membantu dalam proses pendegradasian bahan organik. Praktikum kali ini menggunakan buah nanas karenan nanas mengandung nutrien yang terdiri dari karbohirat dan gula cukup tinggi yang dapat dimanfaatkan bakteri sebagai substrat atau sumber energi.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan proses pengomposan berlangsung setiap minggunya. Hal ini terlihat dari perubahan-perubahan yang terjadi setiap minggunya yaitu penyusutan tinggi serasah, perubahan warna, bau dan tekstur. Proses pembuatan kompos ini belum matang secara sempurna terlihat dari tekstur yang masih kasar dan berbentuk serasah, suhunya belum sama dengan suhu lingkungan, serta warnanya yang masih berwarna kecoklatan. Penentuan kematangan kompos secara langsung di lapangan dapat dilihat dari kompos berwana coklat tua hingga hitam dan mirip dengan warna tanah, tidak larut dalam air, suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan dan tidak berbau (Nyoman,2010).
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, pembuatan kompos dilakukan semi anarobik. Pengamatan yang dilakukan setiap minggu selama 3 minggu, dilakukan pengadukan setiap seminggu sekali. Parameter yang diamati setiap minggunya yaitu bau, warna, dan tinggi kompos. Berdasarkan hasil yang didapatkan (Tabel 1), pada minggu ke-1 kompos masih kasar, warnanya coklat tua, baunya seperti daun kering biasa, dan tinggi serasah yang diukur dari permukaan ember sebesar 20 cm. Penurunan tinggi serasah tidak signifikan yaitu hanya 1 cm, oleh karena itu kompos diberi perlakuan yaitu memotong serasah dengan ukuran lebih kecil dari sebelumnya dan diberi nanas sebagai energi untuk bakteri.
Pada minggu ke-2, tekstur kompos masih kasar, warnanya sudah mengalami perubahan menjadi coklat kehitaman dan tidak berbau, dan tinggi serasah yang diukur dari permukaan ember sebesar 18,5 cm. Pada minggu ke-2 ini mulai terlihat perubahan akibat aktivitas dekomposisi yang dilakukan bakteri. Bau kompos dari hasil pengomposan tidak berbau. Hal ini karena proses penguraian oleh mikroba berlangsung dengan baik. Praktikum kali ini tidak mengukur parameter suhu. Akan tetapi, saat pengadukan kompos terasa hangat.
Pada minggu ke-3, tekstur kompos sudah lebih lembut, warnanya sudah mengalami perubahan menjadi coklat lebih pekat, dan tinggi serasah yang diukur dari permukaan ember sebesar 15 cm. Pada minggu ke-3 ini mulai terlihat perubahan akibat aktivitas dekomposisi yang dilakukan bakteri. Bau kompos dari hasil pengomposan tidak berbau. Hal ini karena proses penguraian oleh mikroba berlangsung dengan baik.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengomposan adalah (Nyoman P. Aryantha, 2010) yaitu C/N rasio. Nilai C/N rasio untuk pengomposan berkisar sekitar 30:1 hingga 40:1. Ukuran partikel, permukaan area yang luas akan meningkatkan terjadinya kontak mikroba dengan bahan sehingga proses dekomposisi dapat berjalan lebih cepat. Aerasi, aerasi yang baik akan mempercepat pengomposan jika pengomposan terjadi secara aerob/semiaerob. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan. Porositas, porositas merupakan rongga-rongga yang akan diisi air dan udara yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan mikroba. Kelembaban,  kelembaban memegang peran penting dalam metabolism mikroba. Kelembaban dengan kisaran 40-60% merupakan kisaran optimum bagi metabolisme mikroba. Tempertaur, panas dihasikan dari proses metabolisme mikroba. Peningkatan suhu dapat terjadi secara cepat dalam tumpukan kompos yang berkisar antara 30-60 C. Nilai pH, pH yang optimum untuk pengomposan antara 6.6-7.5 Kompos yang sudah matang biasanya memiliki pH netral. Kandungan hara, ketersediaan hara dalam pengomposan penting untuk mendukung pertumbuhan mikroba.




BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pembuatan kompos dari serasah berfungsi untuk mengurangi penumpukan daun-daun kering yang sudah tua, memanfaatkan sampah berupa daun menjadi sesuatu yang lebih berguna lagi. Pembuatan kompos kali ini termasuk semi anaerobik. Pembuatan kompos secara semi anaerobik dipengaruhi oleh rasio C/N, aerasi, kelembaban, porositas, pH, temperature, dan kandungan hara. Kompos yang dibuat pada praktikum kali ini belum memenuhi standar yang ada karena kurangnya waktu pembentukan kompos. Kompos dapat memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.





DAFTAR PUSTAKA

Hapsari AY. 2013. Kualitas dan kuantitas kandungan pupuk organik limbah serasah dengan inokulum kotoran sapi secara semianaerob [skripsi]. Surakarta (ID) : Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Irianto A. 2003. Probiotik untuk Akuakultur. Yogyakarta (ID) : Universitas Gajah Mada.
Nyoman P Aryantha, dkk. 2010. Kompos. Bandung (ID) : Pusat Penelitian Antar Universitas Ilmu Hayati  LPPM-ITB.

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete